Waktu & Doa Sholat Dhuha – Tata cara Serta Keutamaannya

Sholat Dhuha dan keutamaannya

Salah satu amalan shunnah yang membuka peluang terbukanya pintu rezeki yakni Shalat Dhuha. Tentu saja peluang itu akan terbuka bagi seluruh umat Muslim yang melaksanakannya dengan istiqomah (kontinu atau berkelanjutan) serta dibarengi niat ikhlas lillahi taala. Sebelum mengetahui tata cara serta doa shalat dhuha, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan shalat dhuha, dan mengapa ia menjadi salah satu amalan shunnah yang utama.

Pelaksanaan suatu ritual ibadah haruslah dibarengi dengan ilmu. Tujuannya agar pelaksanaan ritual itu nantinya tidak berujung pada kehampaan, apalagi kebodohan. Sebaliknya, jika kita melaksanakan ibadah dengan ilmu, aka nada motivasi dan semangat yang didasari keikhlasan, sehingga peluang mendapatkan ridha Allah selalu terbuka.

Pengertian Shalat Dhuha

Dhuha menurut ulama fiqih artinya waktu ketika matahari mulai naik sepenggalah (seukuran tombak), hingga menjelang zawal atau ketika matahari tengah hari tergelincir. Di waktu tersebut, cahaya matahari terasa sangat sejuk dan hangat, bahkan mengandung vitamin D yang baik untuk pembentukan tulang. Shalat yang dilaksanakan pada waktu tersebut (sekitar pukul 07.00-11.00) disebut dengan shalat dhuha.

Allah Swt. telah menerangkan tentang Dhuha dalam salah satu firmannya yang bernama serupa, yakni Surat Ad Dhuha. Allah bersumpah, “Demi waktu matahari sepenggalahan naik.” Waktu dhuha pun menjadi istimewa karena terpilih sebagai salah satu momentum yang baik untuk beribadah dengan keutamaan-keutamaan tertentu.

Masih pada surat yang sama, dalam ayat berikutnya, Allah menegaskan “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa segala rezeki dan nikmat yang tak terhingga kepada manusia selalu dilimpahkan dan dicukupkan. Tentu saja orang-orang yang rezekinya berhak dicukupkan ialah mereka yang senantiasa bersyukur kepada Allah Swt.

Baca juga:

Hukum Shalat Dhuha

Shalat dhuha termasuk salah satu ritual ibadah yang istimewa. Ia punya pangkat hokum Shunnah Muakkad, atau ibadah yang sangat dianjurkan dan diutamakan. Beberapa ritual ibadah yang juga berperingkat shunnah muakkad lainnya di antaranya tahajjud, tarawih, witir dan lain-lain.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Said Radiallahu Anhu berikut ini:

“Rasulullah SAW senantiasa shalat dhuha sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya, tetapi kalau beliau meninggalkan sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.”

Tanpa mengesampingkan ibadah wajib seperti shalat lima waktu atau puasa Ramadhan, marilah kita senantiasa membuat Allah senang dengan melaksanakan ibadah shunnah lainnya yang berpredikat muakkad, termasuk melaksanakan shalat dhuha. Pelaksanaan dhuha diharapkan dilakukan secara berkelanjutan, setiap hari, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Waktu Shalat Dhuha

Waktu shalat dhuha dimulai dari terbitnya matahari hingga menjelang matahari tergelincir (zawal). Syekh Ibnu Utsaimin merinci waktu ini ketika menjelaskan awal dan akhir waktu dhuha. Beliau menyatakan bahwa waktu dhuha berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu sekitar semeter. Dalam hitungan jam yang ma’ruf adalah sekitar 12 menit (setelah terbitnyamatahari) dan jadikan saja sekitar seperempat jam, karena lebih hati-hati.

Apabila telah berlalu seperempat jam dari terbit matahari, maka hilanglah waktu terlarang dan telah masuklah waktu shalat dhuha. Sedangkan akhir waktunya adalah sekitar sepuluh menit sebelum tergelincirnya matahari.” [6]

Adapun dasar awal waktu dhuha adalah hadits Abu Dzar yang berbunyi,

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ

Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Allah berfirman, “Wahai Bani Adam, shalatlah empat rakaat untuk-Ku di awal siang hari, niscaya aku menjagamu di sisa hari tersebut.”

Waktu dhuha berakhir dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal waktu zuhur. Adapun jeda sebelumnya diberlakukan karena adanya larangan shalat sebelum tergelincirnya matahari.

Oleh karena itu, Syekh Ibnu Utsaimin menyatakan, “Kalau begitu, waktu shalat dhuha dimulai setelah keluar dari waktu larangan (untuk shalat) di awal siang hari (pagi hari) sampai adanya larangan di tengah hari.” [7]

Jumlah Rakaat dan Tata Caranya

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk melakukan shalat dhuha sebanyak dua, empat , enam, atau delapan rakaat, atau lebih, tanpa ada batasan tertentu. Inilah yang dirajihkan oleh Syekh Ibnu Utsaimin dalam pernyataan beliau, “Yang benar adalah bahwasanya tidak ada batas untuk banyaknya, karena ‘Aisyah berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan beliau menambahnya sebanyak yang beliau inginkan.’ (Hr. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbaab Shalat Dhuha, no. 719)

Jumlah rakaat shalat dhuha tidak ada pembatasannya. Seandainya seorang sholat dari terbit matahari setombak sampai menjelang tergelincir matahari, misalnya empat puluh rakaat, maka ini semua masuk dalam shalat dhuha.” [9]

Ini semua dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam dan siang adalah dua rakaat-dua rakaat.” (Hr. an-Nasa’i dalam Kitab Qiyam al-Lail wa Tathawu’ an-Nahar, Bab Kaifa Shalat al-Lail: 3/227, dan Ibnu Majah dalam Kitab Iqamat ash-Shalat wa as-Sunnah fiha, Bab Ma Ja`a fi Shalat al-Lail wa an-Nahar Matsna Matsna, no. 1322; diniai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah: 1/221

Keutamaan Sholat Dhuha

Terdapat beragam keutamaan bagi umat Muslim yang mengkhususkan waktunya untuk melaksanakan shalat dhuha di pagi hari. Keutamaan tersebut di antaranya:

#1. Keutamaan pertama, mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu tiga ratus enam puluh persendian.

Perlu kita tahu bahwa begitu berlimpahnya nikmat yang Allah berikan di keseharian kita, baik yang disadari maupun tidak. Bekerjanya seluruh organ tubuh dengan baik, bernafas dan berkedip di setiap detik, bekerjanya seluruh sel dan aliran darah merupakan nikmat sehat yang tiada terhitung banyaknya. Rezeki tersebut harus diimbangi dengan sedekah agar kelancarannya terjaga. Termasuk juga rezeki Allah yang memfungsikan 360 persendian tubuh sehingga kita senantiasa bekerja dan beraktivitas tanpa kendala.

Hal tersebut ditegaskan dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang berbunyi,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Sungguh, amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila shalat wajibnya kurang sedikit, maka Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)!’ Lalu, dengannya disempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” (Hr. at-Tirmidzi)

#2. Keutamaan kedua, Allah menjaga orang yang melaksanakan empat rakaat shalat dhuha pada hari tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang berbunyi,

عن عقبة بن عامر الجهني رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن الله عز و جل يقول يا ابن آدم اكفني أول النهار بأربع ركعات أكفك بهن آخر يومك

Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau telah bersabda, “Setiap hari bagi setiap persendian dari salah seorang di antara kalian terdapat kewajiban untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi munkar adalah sedekah. Semua itu tercukupkan dengan dua rakaat shalat yang dilakukan di waktu dhuha.” (Hr. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Shalat ad-Dhuha, no. 720)

Nah, sudah terang-benderanglah kita, bagaimana cara menyedekahkan segala rezeki yang Allah beri di keseharian, termasuk sedekah persendian yang jumlahnya 360. Salah satu caranya yakni dengan melaksanakan shalat dhuha dengan sempurna. Dengan demikian, semoga kita menjadi bagian dari hamba Allah yang pandai bersyukur. Dampaknya, pasti Allah akan menambah rezeki kita dari arah dan waktu yang tidak disangka-sangka.

#3. Keutamaan ketiga, shalat dhuha adalah shalat al-awwabin (orang yang banyak bertaubat kepada Allah). Hal ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,

لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ

“Tidaklah menjaga shalat dhuha, kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah.” (Hr. al-Hakim dalam al-Mustadrak: 1/314; dinilai sebagai hadits hasan oleh Syekh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 1994, lihat: 2/324)

#4. Merupakan Salah Satu Wasiat Rasulullah

Jika Anda terbiasa jogging atau sarapan di pagi hari untuk menambah energy jasmani, maka lengkapilah kebiasaan baik tersebut dengan melaksanakan shalat dhuha. Ritual menyenangkan ini efektif menyuntikkan energi besar untuk rohani Anda. Saking baiknya ibadah yang satu ini, Rasulullah sampai berwasiat agar shalat dhuha dilaksanakan setiap hari. Hal tersebut sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut ini:

“Kekasihku (Muhammad) Saw mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan (ayyamul bidh), Shalat Dhuha dua rakaat dan Shalat Witir sebelum tidur”

#5. Mencontoh Perilaku Awwabin

Umat Muslim di seluruh dunia pastinya tertarik untuk menjadi kekasih Allah agar kehidupannya di dunia terasa tenteram lahir batin. Salah satu ciri kekasih Allah adalah menjadi hamba yang taat dengan melaksanakan segala yang disenangi-Nya dan menghindari perilaku-perilaku yang Allah benci. Salah satu kebiasaan hamba-hamba Allah yang (Awwabin)  yakni melaksanakan shalat Dhuha. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah berikut ini:

“Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang aku tidak ingin meninggalkannya: agar aku tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir, agar aku tidak meninggalkan dua rakaat shalat Dhuha karena ia adalah shalat awwabin serta agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan”

Marilah kita semua mencontoh perilaku Awwabin agar dapat peluang meraih cintanya Allah Swt. Salah satunya dengan beristikomah melaksanakan shalat dhuha.

#6. Shalat Dhuha Mencukupkan Rezeki Sepanjang Hari

Shalat Dhuha telah terkenal sebagai shalat untuk menjemput rezeki. Hal tersebut masuk akal jika dikaitkan dengan keutamaan di poin 3 di atas. Sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah Swt, otomatis rezeki akan datang dengan lancar karena Allah menjanjikan pertambahan rezeki bagi setiap hamba ahli syukur.

Tentu saja rezeki yang Allah berikan tidak terbatas pada harta dunia yang berlimpah. Rezeki tersebut bisa jadi berupa perasaan dan kondisi bahagia sepanjang hari, kelancaran tugas dan pekerjaan, maupun rezeki menjadi orang yang bermanfaat untuk orang-oorang di sekitar. Sesungguhnya orang yang paling bahagia itu bukanlah karena ia memiliki rumah serupa istana, atau tabungan bernilai miliaran. Tetapi, orang yang bahagia adalah mereka yang oleh Allah dicukupkan rezekinya, sehingga mereka merasa cukup, lantas diberi peluang untuk berbagi rezeki dan kebaikan untuk manusia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *